Enam Puluh Delapan Kata Hari Ini

Hari ini masih secerah hari kemarin. Matahari bersinar dengan teriknya di jam 08:30 sementara gumpalan kapas putih tak menunjukkan guratnya. Dari jendela kaca ini retina mataku menangkap birunya langit, pori-poriku merasakan desiran angin, dan gendang telingaku menangkap siulan anjing dan burung yang saling bersahutan. Hari ini masih sama terangnya seperti hari kemarin. Di sini, di kursi putar ini aku masih mengamati seperti hari kemarin. Menatap langit dan menunggu rindu.

Bebas Visa sebagai Produk Budaya Diplomasi Indonesia-Australia

Pada bulan Oktober tahun 1947, Australia membantu Indonesia dalam mengatasi sengketa Indonesia-Belanda. Bantuan yang diberikan Australia ini memberi dampak baik pada hubungan Indonesia-Australia sekarang karena Indonesia dan Australia terus membangun hubungan bilateral yang saling menguntungkan. Selain itu, lokasi kedua negara yang cukup dekat menjadi salah satu faktor Indonesia dan Australia menjalin kerja sama baik itu dalam hal ekonomi, politik, ataupun hukum. Dalam hal ekonomi, sektor yang paling banyak mendatangkan profit untuk Indonesia adalah sektor pariwisata. Australia merupakan salah satu negara yang menjadi wisatawan terbesar yang mengunjungi Indonesia, terutama Bali. Bali menjadi tempat berlibur dan rumah kedua bagi warga Australia selama bertahun-tahun meskipun warga Australia sempat tidak berani datang ke Bali setelah peristiwa Bom Bali yang menewaskan banyak wisatawan asing. Akan tetapi, warga Australia kemudian berdamai dengan peristiwa kelam tersebut dan membangkitkan kembali sektor pariwisata Indonesia yang sempat memburut akibat peristiwa itu. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia gencar meningkatkan dan mempromosikan fasilitas pariwisata mereka dengan cara mengeluarkan kebijakan tertentu, pertukaran pelajar, ataupun studi banding untuk menggaet wisatawan Australia lebih banyak lagi dari tahun ke tahun.

Pada bulan Maret 2016, Presiden Joko Widodo menerbitkan dan meresmikan Peraturan Presiden Nomor 21 tahun 2016 yang membahas fasilitas bebas visa kunjungan bagi turis asing ke Indonesia untuk meningkatkan sektor pariwisata. Australia adalah salah satu dari 169 negara yang termasuk ke dalam daftar negara dengan bebas visa kunjungan ke Indonesia. Kebijakan ini kemudian ramai diberitakan di masyarakat Australia karena Australia merupakan salah satu negara dengan wisatawan terbanyak yang mengunjungi Indonesia untuk berlibur dan penyumbang terbesar untuk pemasukan dalam sektor pariwisata. Akan tetapi, kebijakan bebas visa untuk wisatawan Australia ini berulang kali terhambat pelaksanaannya. Seperti yang dilansir News Corp Australia Network, pemerintah Indonesia mencoret Australia dari daftar negara dengan bebas visa kunjungan sebanyak dua kali pada tahun 2015 karena masalah eksekusi mati terpidana narkoba (Bali Nine) sebelum akhirnya diloloskan di tahun berikutnya. News menyebutkan bahwa Australia dicoret dari daftar tersebut karena perdebatan antara pemerintah Indonesia dan Australia mengenai Bali Nine semakin memanas dan tidak menghasilkan titik temu. News juga memberitakan bahwa negara ketiga penyumbang sektor pariwisata terbesar bagi Indonesia ini dicoret dari daftar pada bulan Maret 2015 karena pemerintah pemerintah Australia menolak permintaan Indonesia yang bersikukuh ingin Australia mempermudah sistem regulasi visa bagi warga Indonesia. Menurut News, Indonesia harus membanyar sebanyak $135 untuk visa berlibur dan melengkapi dokumen-dokumen sebanyak 15 halaman jika ingin berkunjung ke Australia. Wisatawan Australia, di lain sisi, hanya perlu membayar $50 (US$35) saja saat berlibur ke Indonesia.

Namun demikian, pada bulan Februari 2016, Indonesia kembali mencantumkan Australia ke dalam daftar negara dengan bebas visa kunjungan setelah pemerintah Australia akhirnya memberi keringanan dengan memberlakukan “three-year multiple entry visa” dan aplikasi kelengkapan dokumen dalam jaringan yang mempermudah dalam pendaftaran visa. Oleh sebab itu, Indonesia akhirnya meloloskan Australia menjadi salah satu negara yang mendapatkan bebas visa berkunjung selama 30 hari pada bulan Maret 2016. Meskipun kebijakan ini sempat dipertanyakan oleh wisatawan Australia karena mereka masih dipungut biaya saat mendatangi Bali, Cindy Lugten, kordinator dan humas Bali.com, mengatakan bahwa kebijakan ini memerlukan waktu untuk sampai ke telinga semua masyarakat Indonesia, seperti yang dilansir oleh News. Selain itu, News juga mewawancarai Kementrian Luar Negeri dan Perdagangan Australia soal ketidakjelasan ini dan mendapatkan jawaban bahwa memang kebijakan tersebut belum ditentukan kapan akan berlakunya tapi sudah dapat dipastikan akan terjadi.

Dilihat dari cara pemberitaannya mengenai kebijakan bebas visa kunjungan bagi Australia, saya berpendapat bahwa media daring Australia ini mendukung pemerintah Indonesia untuk memberikan bebas visa berkunjung bagi warga Australia. Dukungan ini diberikan dengan tujuan agar hubungan bilateral Indonesia-Australia dalam sektor pariwisata dapat saling menguntungkan. News berulang kali dalam keempat arikelnya, terutama dalam artikel “Bali holidays about to get cheaper for Aussie traveler,” memberikan suara lebih pada pemerintah Indonesia mengenai kebijakan tersebut bahkan ketika kebijakan tersebut dua kali terhambat. Dalam artikel tersebut, pemerintah Indonesia diberikan suara untuk menjelaskan isu bebas visa dan keuntungan apa saja yang bisa didapat kedua negara. Media daring tersebut juga memilih untuk menghindari penjelasan lebih lanjut mengenai Bali Nine sebagai salah satu alasan terhambatnya kebijakan tersebut dan lebih menjelaskan secara rinci tentang permintaan Indonesia agar syarat visa berkunjung ke Australia dipermudah oleh pemerintah Australia. Penghilangan satu isu dan penyorotan isu lain ini menurut saya dalam bidang jurnalistik dapat disebut dengan keberpihakan teks terhadap satu sisi, yaitu Indonesia. Namun demikan, News juga tidak mencantumkan secara detail alasan pemerintah Australia menolak permohonan pemerintah Indonesia yang kemungkinan bisa berakibat pada pembaca berita tersebut yang sebagian besar adalah masyarakat Australia kehilangan simpati pada artikel yang mereka buat karena dipandang bersebrangan dengan pemerintah Australia. Media daring tersebut hanya memberikan suara untuk pihak-pihak terkait untuk berbicara mengenai keuntungan bilateral yang didapatkan kedua belah pihak jika keduanya bisa bernegosiasi. Dalam salah satu artikel yang membahas masuknya Australia ke dalam daftar negara bebas visa lagi untuk tahun 2016, media tersebut memberikan suara penuh pada Margy Osmond, CEO Forum Pariwisata dan Transportasi, yang menjelaskan manfaat apa saja yang didapatkan Australia jika Australia mau bernegosiasi dengan Indonesia mengenai pelonggaran visa untuk masyarakat Indonesia.

Di lain sisi, media tersebut tidak memberikan suara pada masyarakat Australia untuk menanggapi berita tersebut meskipun media daring tersebut merupakan media yang berbasis dan dikelola oleh masyarakat Australia. Ketiadaan tanggapan masyarakat Australia dan sudut pandang mereka membuat artikel tersebut berfokus hanya pada bagaimana proses kebijakan tersebut terjadi dan apa yang akan terjadi jika kebijakan itu disetujui. Namun demikian, fokus bahasan ini, menurut saya, menjadi alat komunikasi yang digunakan media tersebut kepada masyarakat Australia untuk memberi sudut pandang baru mengenai kebijakan bebas visa yang akhirnya disetujui di tahun 2016 setelah adanya negosiasi antar negara. Dalam artikel berjudul “Bali holidays about to get cheaper for Aussie traveler,” News menjabarkan keuntungan apa saja yang akan Australia dapatkan setelah akhirnya menyetujui hasil negosiasi sistem visa dengan pemerintah Indonesia. Akan tetapi, jika dilihat dari pemilihan kata pada judulnya, News terlihat ragu bahwa kebijakan bebas visa akan lolos. Keraguan ini diberikan alasannya pada klausa “after two false starts” yang ditampilkan pertama kali dalam teks.

Selain itu, perspektif News terhadap berita ini cenderung berusaha untuk terlihat netral dari luar dan menguntungkan kedua negara walaupun News berusaha untuk meyakinkan pemerintah dan rakyat Austraia untuk menjalin kerja sama pariwisata dengan Indonesia. Media daring ini melihat usaha diplomasi yang dilakukan Indonesia terhadap Australia ini harus disambut baik oleh pemerintah Australia karena Indonesia merupakan negara terdekat yang prospek wisatawannya tinggi. Dengan memasukkan pendapat Margy Osmond yang memberikan hasil risetnya, News mencoba membangun argumen bahwa bebas visa kunjungan ke Indonesia ini harus disambut dengan pelonggaran peraturan sistem visa dari pihak Australia.

Berdasarkan penelitian terhadap pembahasan bebas visa kunjungan bagi Australia oleh News Corp Australia Network, saya menyimpulkan bahwa media daring Australia ini berusaha untuk menghaluskan citra Indonesia dan Australia agar hubungan diplomasi mereka, terutama di bidang pariwisata, tetap berjalan dan saling menguntungkan di masa depan. News hanya memberikan suara pada orang-orang terkait mengenai pandangan mereka terhadap kebijakan bebas visa tersebut. Ketidakhadiran suara masyarakat Australia untuk menanggapi kebijakan tersebut mungin saja digunakan untuk menghindari adanya permasalahan lebih lanjut mengenai kebijakan yang akan menguntungkan masyarakat Australia ini. Selain itu, penghindaran masalah Bali Nine yang menjadi salah satu faktor diplomasi ini hampir gagal tidak dijelaskan lebih lanjut oleh artikel tersebut. Artikel daring itu hanya memberikan pernyataan dari Julie Bishop bahwa alasan tersebut tidak benar. News memberikan pandangan mereka terhadap hubungan diplomasi Indonesia dan Australia dengan menghadirkan lebih banyak segi positif mengenai sektor pariwisata kedua negara yang saling menguntungkan jika kebijakan ini lolos. Penelitian-penelitian berupa presentase profit yang didapatkan dan jumlah wisatawan yang datang yang dilakukan lembaga pariwisata Australia dan lembaga resmi pariwisata Bali menjadi faktor yang selalu ditekankan dan direpetisi oleh artikel tersebut. Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa News berusaha membangun diplomasi pada masyarakat Australia dan Indonesia dengan mengeluarkan artikel yang menguntungkan kedua belah pihak sehingga kebijakan dan permintaan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk pemerintah Australia mendapatkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat Australia.

 

Referensi

 

Ironside, R. (2015, September 27). Indonesia again Backflips on Promise to Scrap Visa Fees for Australian Travelers to Bali. Diakses tanggal 24 Oktober 2016, dari News Corp Australia Network: http://www.news.com.au/travel/travel-updates/indonesia-again-backflips-on-promise-to-scrap-visa-fees-for-australian-travellers-to-bali/news-story/d0b2f14b2926403eb31f125b98488de9).

Ironside, R. (2016, Maret 23). Aussie Tourists Celebrate Free Entry to Bali, but the Rollout has so far been Haphazard. Diakses tanggal 24 Oktober 2016, dari News Corp Australia Network: http://www.news.com.au/travel/travel-updates/aussie-tourists-celebrate-free-entry-to-bali-but-the-rollout-has-so-far-been-haphazhard/news-story/2a202014785787b8895c5e130f035a32

Ironside, R. (2016, Februari 4). Bali Holidays about to Get Cheaper for Aussie Traveller. Diakses tanggal 24 Oktober 2016, dari News Corp Australia Network: http://www.news.com.au/travel/travel-updates/bali-holidays-about-to-get-cheaper-for-aussie-travellers/news-story/272730d225f47f214151bbb8af54eee5

Law, J. (2015, Maret 17). Indonesia Srikes Australia from List of Visa-Free Countries. Diakses tanggal 24 Oktober 2016, dari News Corp Australia Network: http://www.news.com.au/travel/travel-advice/money/indonesia-strikes-australia-from-list-of-visafree-countries/news-story/e01b3c81abb335e7f0fd3563eaaaaaf4

Yudha, H. S. (2016, Maret 22). 169 Negara Resmi Dibebaskan dari Visa untuk Kunjungan ke Indonesia. Diakses tanggal 24 Oktober 2016, dari Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia: http://www.imigrasi.go.id/index.php/berita/berita-utama/996-169-negara-resmi-dibebaskan-dari-visa-untuk-kunjungan-ke-indonesia

Sepenggal Kegundahan Hati

Aku takut pada apa yang akan terjadi nanti di rumahku yang indah ini. Rumah yang telah menjadi zona nyaman, tempat berkeluh kesah, dan tempat berbagi. Rumah yang selalu aku rindukan dan aku musuhi. Rumah yang membuatku ingin selalu tinggal dan pergi. Namun, saat ini, aku hanya ingin pergi darinya. Melarikan diri dari semua teriakan-teriakan antar pemilik kamar yang sangat bising sampai membuat telingaku berdenging. Kabur ke rumah tetangga dan tidak lagi kembali. Semuanya terlalu menyesakkan hati. Ingin aku menutup mata, telinga, dan hatiku agar aku tak perlu lagi merasa rindu pada rumahku saat aku memutuskan untuk pergi merantau.

Tapi, kenangan itu, kenangan tumbuh di rumah, berinteraksi dengan pemilik kamar yang lain, dan ikut membangun serta merenovasi rumah sulit hilang dari memori. Membuatku sulit untuk pergi. Indung berkata bahwa teriakan di rumah ini tidak selalu membuat telinga pekak tapi, entah kenapa, suara para pemilik kamar kian hari kian bising. Mereka saling beradu; bunyi siapa yang paling nyaring. Puncaknya, suara mereka semakin berdenging kemarin. Saat salah satu pemilik kamar utama kedua diusir. Teriakan mereka berubah menjadi lebih mirip seperti riuh para supporter sepakbola. Namun, ada pula suara isak tangis yang teredam di antara keriuhan itu. Ah, ternyata para pemilik kamar sebelah kiri yang terisak sedangkan kegaduhan itu berasal dari para pemilik kamar sebelah kanan. Mengapa mereka menimbulkan bunyi yang berbeda sekarang? Oh, ternyata penyeretan pemilik kamar itu yang menjadi penyebabnya. Para pemilik kamar sebelah kanan, layaknya suporter bola yang timnya baru saja memenangkan permainan, mengelu-elukan pemindahan pemilik kamar utama kedua ke ruang bawah tanah yang menyeramkan itu. Mereka berdiri di depan kamar mereka dan di sepanjang tangga sambal mengibaskan bendera. Sedangkan sisi lainnya, mereka menundukkan kepala mereka dan terisak layaknya orang yang habis menonton serial drama. Apa orang yang dipindahkan itu pemain bola? Oh, bukan ternyata. Nini bilang orang itu induk semang para pemilik kamar lantai dua. Kenapa induk semang itu diusir? Dan kenapa mereka sangat peduli dengan pengusiran itu sampai meramaikan rumah ini selama berbulan-bulan? Lagi, Nini berujar bahwa itu kehendak mereka, lebih tepatnya kehendak orang-orang pemilik kamar sayap kanan. Mereka peduli karena ini menyangkut ketentraman mereka hidup. Lho, jika memang begitu, lantas kenapa mereka yang ada di sayap kiri menangis seperti enggan melepas dia? Ya, kamu kan tahu dari dulu orang-orang lebih milih tinggal di sayap kanan rumah ini. Lebih aman katanya. Begitu yang Nini ucapkan padaku. Tapi, aku masih bingung dan raut mukaku jelas menampilkan ketidakmengertian itu. Namun, Nini hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.

Induk semang lantai dua. Dia orangnya cukup ramah meskipun terkadang aku tidak suka caranya mengatur sistem perkamaran daerahnya. Meskipun aku tidak berada satu lantai dengan dia, aku bisa melihat dengan jelas dari balkon lantai tiga kamarku aktifitas yang terjadi di lantai dua sana. Itulah sebabnya aku sedikit mengenal dia. Yah, walaupun hanya sekilas.

Aku mencoba bertanya pada pemilik kamar sebelah, apa yang menyebabkan dia diusir? Pria berperawakan tinggi dengan kumis dan jenggot yang menghiasi wajahnya itu berkata bahwa induk semang telah menghardik kita. Kita? Kita siapa? Aku dan anda? Tapi saya kan tidak mengenal anda? Saya bertanya kembali. Bukan, jawabnya. Kita semua yang tinggal di rumah ini. Oh ya? Berani sekali dia padahal dia juga tinggal di sini. Memang dia berkata apa? Tanyaku kembali. Dia berkata bahwa kita sudah terlalu enak bernaung di sayap kanan. Aku mengernyit. Lah, kalau begitu dia tidak menghardik kita semua. Dia hanya menghardik anda sekalian yang tinggal di sayap kanan, kataku. Laki-laki brewokan itu merengut. Tapi kamu juga tinggal di sayap kanan kan? Berarti kamu juga dihardik olehnya, bocah! Aku semakin bingung dan kalian pun pasti bingung mendengarnya. Jadi begini, rumah ini memiliki 34 lantai dan setiap lantainya di pegang oleh seorang induk semang yang bertugas sebagai perwakilan mereka jika kami harus berkumpul dan memutuskan sesuatu. Selain itu, rumah ini juga memiliki seorang ‘pemilik’ yang tinggal di lantai satu. ‘Pemilik’ ini merupakan perwakilan kami semua jika tetangga berkunjung ataupun sebaliknya. Nah, untuk masalah pembagian kamar, rumah ini berbentuk persegi sehingga memiliki empat sisi. Namun, seringkali kami membaginya menjadi dua saja agar lebih gampang, yaitu kamar sayap kanan dan kamar sayap kiri. Bagaimana dengan kamar di antara kedua sayap itu? Seperti yang sudah Nini jelaskan tadi, para penghuni rumah banyak yang lebih suka dengan bagian kanan rumah ini. Entah kenapa. Oleh sebab itu, ¾ kamar bagian tengah dianggap sebagai sayap kanan dan sisanya sayap kiri.  Sudah cukup mengerti kan sekarang? Sekarang, lanjut ke percakapan antara aku dan laki-laki ini. Aku sebenarnya cukup bingung harus berkata apa karena memang menurut peraturan di rumah ini, aku termasuk pemilik kamar sayap kanan. Namun, aku tidak sependapat dengannya. Begitu juga keluargaku. Apa itu artinya kami seharusnya tinggal di bagian kiri rumah ini? Sebelum aku sempat bertanya, laki-laki itu telah terlebih dahulu berkata bahwa induk semang itu memang tidak tahu malu. Pasalnya, dia merupakan pemilik kamar sayap kiri di lantai 30 dulunya sebelum dia pindah ke lantai dua. Belum pernah ada sebelumnya pemilik kamar sayap kiri dari lantai 30 ke atas yang berani turun dan menjadi induk semang di lantai enam sampai ke lantai dua. Apalagi lantai dua. Tidak ada sejarahnya mereka yang dari lantai sepuluh ke atas berani menasbihkan diri di sana.

Kalian bingung lagi? Walah maaf ternyata saya belum menjelaskan semuanya ya. Karena rumah ini memiliki 34 lantai, orang-orang saling berebut ingin tinggal di lantai bawah. Mengapa? Biar lebih gampang jalan sama keluar-masuknya katanya. Menghindari persilisihan antar calon pemilik kamar, akhirnya diputuskan secara musyawarah mufakat bahwa orang-orang yang sudah terlebih dahulu ada di sini adalah orang yang akan menempati kamar-kamar di lantai bawah. Aku juga sejujurnya tidak tahu siapa saja orang-orang itu karena sistem penempatan kamar sudah ada sejak aku lahir. Nini pernah bilang bahwa orang yang membangun rumah inilah yang menetapkannya. Orang-orang seperti aku, Nini, Indung, dan laki-laki ini. Sedangkan yang lain, yaitu orang-orang yang akhirnya harus tinggal di lantai paling atas, harus rela mengikuti aturan tersebut karena mereka datang belakangan dan merupakan pindahan dari rumah tetangga. Owalah, pantas saja mereka berbeda. Kebanyakan dari mereka yang tinggal di lantai atas itu pindahan toh. Begitulah pikirku saat aku masih berumur lima tahun. Namun, Nini dan Indung selalu berkata padaku bahwa kami dan mereka itu sama saja sekarang, yaitu orang-orang yang telah tinggal di rumah ini sehingga kami tidak pernah memandang mereka sebagai orang yang tinggal di lantai paling atas dan di sayap kiri. Toh mereka juga sering mengunjungi kamar kami dan berbagi rezeki.

Lalu, kenapa mereka semua yang mengelu-elukan kepindahan induk semang lantai dua tidak suka dengan dia dan menganggap omongan dia itu merupakan hardikan? Padahal menurutku itu hanya sebuah kejujuran. Semua orang boleh bebas berbicara apapun kan? Sekalipun itu membuat kita nyeri? Yah, selama omongan kita masih berlandaskan argumen yang masuk diakal. Setidaknya itu yang aku tahu saat aku tinggal di rumah ini. Tapi, mengapa sekarang berbeda? Apa hanya karena orang yang berkata itu merupakan orang yang dulunya tinggal di lantai 30 sayap kiri? Soalnya, aku, Nini, Indung, dan teman-temanku juga sering berkata mengenai mereka yang tinggal di sayap kanan (ya, itu berarti termasuk kami) sebagai orang-orang yang mau enaknya aja. Bahkan kami sering menghardik mereka. Ya, benar-benar menghardik. Jika dibandingkan dengan omongan induk semang itu, hardikan kami lebih nyeri. Tapi, kami tidak pernah sampai diusir ke ruang bawah tanah (untungnya). Apa tempat tinggal kami yang berada di lantai bawah dan terletak di sayap kanan membuat kami lebih bebas untuk berbicara apapun? Entahlah. Mungkin saja. Namun aku yakin, itu penyebabnya. Jika sudah begini, aku jadi berpikir dua kali untuk menghardik mereka lagi. Siapa yang tahu mereka akan berubah pikiran dan mengirimkanku ke ruang bawah tanah? Ih, membayangkannya saja sudah ngeri.

Akan tetapi, aku tetap saja gundah. Gundah apa aku tidak bisa lagi bergaul dengan mereka dari lantai atas. Gundah apa aku tidak bisa lagi berbicara sesuka hati. Gundah apa aku sudah selayaknya tinggal di tempatku berada sekarang. Gundah apa nanti tidak akan ada lagi orang-orang dari lantai atas, terutama yang tinggal di sayap kiri, yang mau turun ke lantai bawah dan bersilaturahmi lagi. Dan sepertinya, kegundahan yang aku rasakan ini juga dirasakan oleh mereka yang sedang menangis.

Duh Gusti, kasihanilah kami. Rumah ini adalah tempat kami tinggal dan berlindung. Jika satu orang bisa diseret ke bawah tanah hanya karena omongan seperti itu, bagaimana kami bisa merasa aman lagi? Bagaimana kami bisa bercengkrama tanpa takut ada orang yang mengawasi lagi? Aku takut. Aku gundah. Aku murka. Tapi aku bisa apa? Pantas saja Nini hanya bisa menggeleng dan tersenyum. Kalian pun sekarang mengerti kan kenapa aku ingin sekali keluar dari rumah ini dan merantau saja ke rumah tetangga? Tapi harapan hanya tinggal harapan. Aku yang masih bontot ini mana bisa pergi merantau tanpa bekal apapun. Makan saja masih dimasakkan Indung. Untuk sekarang, aku hanya bisa bergundah gulana di buku harian ku saja karena jika aku menunjukkan air mata di depan mereka, aku takut mereka akan menggiring paksa aku ke ruang bawah tanah. Sama seperti induk semang itu yang naas nasibnya diseret paksa oleh mereka.