Surat untuk Dia

Kepada Dia yang terkadang pergi tanpa memberi kabar,

Sudah sejauh mana kamu telah melangkah?

Jejakmu sudah terhembus angin menyisakan partikel kenangan yang terbang mengambang menerangi malam.

Cahaya kuning keemasan itu terpantul binarnya di retina mata.

Namun sayang,

Dia tidak membiaskan kecepatan cahaya yang kau bawa pergi saat melangkah.

Haruskah kutanya pada mereka,

Kemana kamu akan membawa hidupmu selanjutnya?

Cahaya kuning itu berpendar indah,

Seindah dia yang telah pergi tanpa menyisakan bayangan.

Advertisements

Tangan (dan) kita

Kita berjabat tangan dan saling mengucapkan kata perpisahan. Tanganmu yang dulu selalu menggetarkan aliran listrik sampai ke dalam perutku membuatku selalu takut untuk menyentuhnya. Tatapan matamu membuat saraf-saraf di otakku seketika lumpuh untuk memproses kata. Wangi tubuhmu membuai anganku ke tempat yang selalu ingin kukunjungi lagi dan lagi. Dan, hangat tubuhmu menarikku untuk selalu mendekat dan bersandar padamu.

Kita berjabat tangan dan saling mengucapkan kata perpisahan. Tanganmu tak lagi menghantarkan aliran listrik ke dalam perutku. Matamu masih setajam dan sejenaka dulu tapi pesonanya sama seperti mereka yang ku tatap setiap harinya. Wangi tubuhmu… Wangi tubuhmu masih sama. Masih membuatku terbuai. Lalu, hangat tubuhmu masih bisa menarikku untuk selalu mendekat padamu. Punggungmu masih terasa familiar. Apa itu wajar?

Kita berjabat tangan dan saling mengucapkan kata perpisahan. Sejenak aku berpikir apakah kita berjabat sedikit lama? Ah, sudahlah…

Cinta Itu Sekedar

Cinta itu sekedar rasa yang timbul saat mata menangkap sesosok manusia yang membekukan pikiranmu.

Cinta itu sekedar semut-semut kecil yang menggelitiki perutmu saat dia berada dekat dan berbicara padamu.

Cinta itu sekedar senyuman yang selalu kamu tampilkan saat kamu membayangkan dia di dalam otakmu.

Cinta itu sekedar membayangkan kamu dan dia duduk bersebelahan dan mengobrol sampai malam menjemput.

Cinta itu sekedar kenyamanan yang telah kamu jalin dengan dia setelah sekian lama kalian mengenal dan bersama.

Cinta itu sekedar getaran di jantung saat kamu melihat dia memandangmu dari kejauhan dan tersenyum padamu.

Cinta itu sekedar lemasnya lutut saat dia berbuat manis padamu.

Cinta itu sekedar kehangatan yang menjalar di antara canda tawa kamu dan dia.

Cinta itu sekedar perasaan yang timbul tanpa disadari karena tanpa diduga dia sudah menempati hampir seluruh ruang di relung hati yang terdalam.

Sekedarnya cinta… itulah yang kamu rasa.

Sebuah Mukjizat yang Terkutuk

Semenjak saya kuliah di Sastra Inggris, saya memiliki banyak pemikiran dan kebiasaan baru. Hal ini disebabkan banyak hal yang saya pelajari selama kuliah dan dosen-dosen pengampu mata kuliah yang “membuka” mata saya. Mungkin lebih ke pengaruh dan kebiasaan dosen-dosen tersebut yang mereka terapkan pada mahasiswanya sehingga membawa dampak sangat besar bagi saya. Salah satu sifat yang saya bawa dari mereka adalah keterbukaan.

Keterbukaan yang saya maksud di sini memiliki banyak makna dan referensi, salah satunya adalah keterbukaan sikap atau pendapat. Selama saya berkuliah di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, dosen-dosen tidak segan untuk mengkritik dan memarahi saya jika tugas yang saya kerjakan tidak mumpuni atau sikap yang saya tunjukkan kurang pantas. Awalnya, saya cukup kaget dengan sikap yang mereka tunjukkan saat mereka berkata bahwa saya harus secara gamblang menyatakan apa yang ada di otak saya pada siapapun tanpa mengenal gender, status, ataupun kelas. Bahkan bila saya punya unek-unek untuk dosen tertentu, saya harusnya bisa mengutarakannya pada dosen tersebut secara langsung agar beliau tahu pendapat saya. Yah, saya kaget karena latar belakang saya yang berasal dari suku Sunda dan didikan orang tua saya yang melarang untuk membantah pada orang tua atau melontarkan pikiran saya pada orang-orang tertentu tanpa disaring terlebih dahulu.

Jujur, hal tersebut cukup sulit untuk saya lakukan selama setahun saya ada di sana. Namun, lambat laun dan juga karena pengaruh dari lingkungan, saya menjadi terbiasa menyuarakan segala pendapat saya kepada semua hal dan mendengar ataupun menginginka kritikan dan masukan jika hasil kerja atau sikap saya kurang memuaskan.

Akan tetapi, entah ini kutukan atau mukjizat, pemikiran tersebut terus saya bawa sampai saat ini. Mungkin saya yang masih terlalu naif dalam melihat berbagai perspektif di setiap lingkungan. Atau mungkin juga saya yang terlalu bersikap idealis. Yang jelas, rasa tertekan, kegelisahan, dan ketakutan yang sudah sejak SMP tumbuh tapi sedikit teredam pada saat kuliah kini mulai berkembang dan menjalar sampai ke ulu hati. Mungkin sayanya saja yang terlalu memikirkan segala hal dan belum berani untuk mengutarakannya sehingga semua hal itu muncul kembali dan berjamur. Entahlah.

Rasanya saya ingin mengurung diri saya di sebuah kamar seorang diri. Sebuah kamar yang kedap suara sehingga saya tidak bisa mendengar apapun yang bukan berasal dari kamar itu. Sebuah kamar yang hanya memiliki ventilasi udara tanpa kaca. Sehingga saya tidak perlu berspekulasi ketika mendengar dan melihat sayup-sayup bisikan antar manusia. Karena spekulasi itu menakutkan. Membuat masalah layaknya ular.

Namun demikian, haruskah (dan mampukah) saya mewujudkan keinginan tersebut?

Enam Puluh Delapan Kata Hari Ini

Hari ini masih secerah hari kemarin. Matahari bersinar dengan teriknya di jam 08:30 sementara gumpalan kapas putih tak menunjukkan guratnya. Dari jendela kaca ini retina mataku menangkap birunya langit, pori-poriku merasakan desiran angin, dan gendang telingaku menangkap siulan anjing dan burung yang saling bersahutan. Hari ini masih sama terangnya seperti hari kemarin. Di sini, di kursi putar ini aku masih mengamati seperti hari kemarin. Menatap langit dan menunggu rindu.