Tubuh dan Potensinya

20150522_134157[1]

Tony Broer push-up dengan telapak tangan ditepuk saat menaiki tanjakan bebatuan di sebelah Gedung C, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Awalnya saya tidak yakin dia (dan orang lain) dapat melakukan hal seperti itu karena selain dia sudah sepuh, medan juga aktifitasnya terlalu berat untuk tubuh kita. Tetapi, tubuhnya dengan mudah dan cepat melakukan hal tersebut dan hal itu membuat mata saya membelalak. Dugaan saya tentang tubuhnya yang tidak akan mampu melakukan hal “berat” itu dibantah dengan mudah oleh gerakan tubuhnya yang lancar dan medan yang seperti itu adalah hal biasa yang mampu tubuhnya lakukan. Tubuh dia memiliki irama tersendiri saat dia melakukan gerakan tersebut sehingga gerakannya sangat konstan dan teratur. Tubuhnya menunjukkan kepada semua penonton yang melihat atau sekedar melewati jalan tersebut bahwa hal yang mereka, dan saya, kira mustahil dilakukan oleh tubuh ternyata bisa dilakukan. Saat dia memberi pengarahan pun, dia juga berbicara dengan tubuhnya. Dia menunjukkan bahwa tubuh yang saya kira bisa tumbang apabila melakukan hal berat semacam itu ternyata mampu bahkan kuat karena beliau berkata tubuh itu tidak mengenal rasa lelah. Dia berkata bahwa selama ini kita terlalu didoktrin oleh masyarakat bahwa tubuh memiliki batas sehingga hanya dapat melakukan ruang gerak tertentu dan apabila menyalahi aturan tersebut, kita dikira gila. Akan tetapi, gerakan tubuh Tony Broer yang “tidak biasa” berhasil “berbicaara” dan menggoyahkan argumen tersebut; bahwa batasan itu hanya terdapat di dalam pikiran kita. Saya sebagai penonton pun merasa bahwa memang tubuh saya itu bisa untuk melakukan hal tersebut hanya saja sering kali pikiran saya berkata bahwa saya tidak mampu dan akhirnya kata “cape” atau “malu” pun muncul sebagai alasan untuk berhenti melakukan kegiatan yang melibatkan tubuh kita untuk berkomunikasi.

Setelah itu, saya pun dibuat kagum oleh gerakan tubuhnya yang seimbang saat melakukan headstand, dengan tangan sebagai pelindung kepala, di ujung permukaan yang tingginya sekitar satu setengah meter dari tanah. Tubuhnya sekali lagi melewati batas persepsi saya tentang apa-apa saja yang bisa dan harus tubuh lakukan. Awalnya, saya mengira hal tersebut sebagai sesuatu yang di luar nalar tapi lambat laun saya sadar bahwa apa yang dia dan terutama tubuhnya lakukan itu untuk berbicara dan berbaur dengan ruang yang ada di sekitarnya. Bahkan, kata “luar biasa” dan “indah” pun muncul di benak saya karena saya dapat menangkap setiap gerak tubuhnya. Meskipun dia sama sekali tidak berbicara saat melakukan pertunjukkan tersebut, saya dapat menangkap apa yang tubuhnya “ceritakan” walau ada kemungkinan dia tidak merencanakan dan memikirkan setiap gerakan yang dia buat. Jadi, tubuhnya seperti melakukan kontak dengan ruang dan orang-orang di sekitarnya juga menguasai mereka tanpa perlu berbicara lewat mulut. Dalam bukunya Body Language in Literature, Barbara Korte menyebutkan bahwa:

Non-verbal behavior plays a most important role in social life. in every form of human interaction a large portion of the signals people send or receive, either consciously or unconsciously, are non-verbal” (26)

Hal ini terlihat sekali saat pertunjukkan tubuh di depan Gedung C Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran terjadi karena para peserta tidak diperbolehkan berbicara menggunakan mulut yang kata-katanya telah dipikirkan oleh otak melainkan oleh tubuh sepenuhnya.

Hal-hal yang saya sadari dari pelatihan tersebut adalah kita sering mengabaikan tubuh kita dalam melakukan segala kegiatan sehari-hari sehingga kita tidak mengenal potensi yang dapat tubuh kita lakukan. Karena itulah, Tony Broer berusaha menampilkan gerakan tubuhnya di luar panggung sehingga apa yang dia lakukan tidak hanya dianggap sebagai sebuah “pertunjukkan” saja. Dia berusaha untuk membuat tubuh kita potensial sebagai sarana untuk berbicara tanpa perlu megeluarkan suara.

Setelah selesai acara tersebut, saya menemukan keterkaitan antara tubuh yang dapat digunakan sebebas mungkin dan bagaimana tubuh berinteraksi dengan keadaan di sekitarnya dengan esai yang saya bahas di mata kuliah Further Studies in Prose yang kebetulan juga membahas tentang tubuh. Keduanya berbicara tentang tubuh yang setiap hari melakukan interaksi secara non-verbal dan bagaimana tubuh menggerakan ekonomi sekitar. Pelatihan yang Tony Broer lakukan membuat saya menyadari akan adanya tubuh, kepentingan tubuh dan permasalahan tentang tubuh sehingga hal tersebut membantu saya dalam menganalisis karya sastra.

Referensi:

Korte, Barbara. Body Language in Literature. London: University of Toronto Press, 1997.